Budaya , Kesenian , Adat Istiadat, Pengertian budaya, Definisi budaya, Budaya jawa, Budaya lokal, Budaya sunda, Sosial budaya

Minggu, 29 Juni 2014

PUASA RAMADHAN KEMBALI KE FITRAH ADAM MA’RIFAT

Ngaji rutin Suluk Ngalah Sabtu Kliwonan di Pesantren Global Tarbiyyatul Arifin sengaja dimajukan waktunya karena menyambut bulan suci Ramadhan 1435 H  (27/06). Dalam ngaji suluk kali ini Ustadz KH Dhiyauddin Qushwandy dan Romo Agus Sunyoto membahas tentang rahasia puasa dalam doktrun ajaran dan amaliah tasawuf. Ngaji dihadiri oleh beragam kalangan, mulai dari para Mantri (mahasiswa-santri), santri,  bapak-bapak,  hingga kakek-kakek dari  luar kota dan luar pulau pun turut hadir. “Itu ada jama’ah yang dating dari Pulau Bawean,” ujar ustadz Dhiyauddin.
Menurut Ustadz Dhiyauddin, ibadah puasa sebagaimana firman Allah  dalam al-Qur’an al-Kariim, bertujuan utama la’allakum tattaquun (menjadi hamba yang taqwa). Untuk mencapai tingkat taqwa, papar ustadz Dhiyauddin, pertama-tama yang harus dilakukan adalah menghilangkan kebodohan, mengalahkan nafsu dan mengesampingkan sifat ananiyah. Untuk mengatasi dan menaklukkan ketiga hal tersebut tidak serta merta melainkan butuh perjuangan. Diperlukan amaliah laku tahap demi tahap sehingga sampai pada puncaknya.

Ada tiga program pokok yang harus dijalankan selama bulan Ramadhan, ungkap ustadz Dhiyauddin. Pertama, membaca al-qur’an atau yang dalam adat tradisi di lingkungan langgar-musholla-masjid sering disebut tadarrus. Firman Allah swt, Syahru romadlonalladzii unzila fihi al-qur’an (pada bulan Ramadhan diturunkan al-Qur’an). Hal ini bukan tanpa maksud. Tadarrus berasal dari kata darosa-yadrusu yang memiliki arti belajar maka tadarrus (membaca al-qur’an) adalah satu langkah untuk belajar mencapai pengetahuan dan menghilangkan kebodohan dari diri manusia. Dalam Qur’an surh Al-Baqoroh ayat 2 disebutkan, dzaalika al-kitaabu laa roiba fiihi, huda lil muttaqin. Sebuah petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, membaca al-qur’an menjadi satu jalan untuk mengatasi kebodohan manusia dalam mengenal Tuhannya. “Membaca Qur’an tidak bisa dilakukan tanpa pengetahuan,” ujar Dhiyauddin.
Kedua, melawan nafsu diri. Dalam kehidupan sehari-hari, nafsu manusia secara garis besar terbagi menjadi nafsu di siang hari dan nafsu di malam hari. Di siang hari, nafsu manusia adalah nafsu makan. Oleh karenanya, di bulan Ramadhan ini, manusia diberi kesempatan untuk melatih diri melawan nafsu suka makan dengan berpuasa; menahan diri dari makan dan minum dari terbitnya matahari hingga terbenam. Puasa bukan lantas memindahkan  jadwal makan melainkan mengurangi porsi makan. Dengan makanan, kesadaran inderawi seseorang akan semakin kuat, pun demikian dengan nafsunya. Hal ini sebagaimana dilantunkan dalam sholawat burdah, falaa tarum bilma’ashi kasro syahwatihaa, inna tho’ama yuqowi shahwatannahimi. Wannafsu kathifli intuhmilhu syabba ‘ala, hubbi rodlo’I wa in tafthimhu yanfatimi.
Setelah seharian menahan haus dan lapar, lantas di malam hari, umat Islam dianjurkan untuk mencegah diri dari nafsu ingin tidur dan berhubungan badan (bagi yang sudah bersuami/beristri). Di malam bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, wirid, dzikir, sholat malam, bertawajjuh menghadap Sang Kholiq.
Ketiga, melawan ananiyah atau ego diri. Seorang manusia cenderung dengan ke-aku-annya, egoisme diri yang mengalahkan segalanya. Mementingkan diri sendiri, sebuah sifat dasar manusia yang dalam bulan Ramadhan ini harus dikesampingkan agar ke-aku-an melebur dan diri semakin dekat dengan Allah SWT sehingga mencapai fitrah seperti bayi yang baru lahir. Ngaji bersama Ustadz Dhiyauddin diakhiri dengan membaca Allahu haadliri, Allahu Naadzirii, Allahu ma’ii, Allahu qoriibun minnii, yaitu dzikir sir dari Kyai Kasan Besari Tegalsari  untuk lebih mendekatkan diri pada Allah, dengan  merasakan kehadiran Allah yang bahkan lebih dekat dari urat nadi manusia sehingga sifat ananiyah lenyap secara perlahan.
Ngaji dilanjutkan oleh Romo K. Ng H Agus Sunyoto. Dengan ciri khas ahli sejarah, Romo memulai ngaji dengan menyampaikan bahwa puasa adalah ibadah paling tua, yang sudah dijalankan pada agama-agama kuno sebelum Islam. Dengan suara yang sedikit serak Romo lalu melantunkan, Yaa Ayyuhalladziina aamanu, kutiba ‘alaikumushiyaamu kamaa kutiba ‘alalladziina min qblikum la’allakum tattaquun, Qs. Al-Baqoroh: 183. Ayat tersebut, ungkap Romo menjelaskan betapa puasa merupakan ibadah yang telah diwajibkan bahkan kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw. Nabi pertama, Adam AS sebagai kholifatullah fil ardh, diberi perintah oleh Allah SWT untuk tidak mendekati pohon yang dikenal dengan nama “khuldi”.  “Namun  Adam melanggar. Tidak  hanya mendekati,  ia malah memakan buahnya,” ungkap Romo sembari tersenyum kecil yang diikuti pula dengan gelak tawa para mantri.
Oleh karena pelanggaran itu, lanjut Romo, Allah marah  dan mengusir Adam dari Jannatul Darussalam (taman yang damai). Tidak sekedar diusir dari Jannatul Darussalam, Allah  meletakkan hijab yang disebut al-Ghayn, di mana Adam AS yang sebelumnya bisa berkomunikasi dengan segala yang ghaib seperti  iblis, malaikat, dan  bahkan bisa berwawansabda dengan Allah SWT serta-merta terputus. Adam terhijab dari yang ghaib. Semua kejadian tragis itu karena pengaruh Hawa ( nafsu). Gara-gara makanan Adam AS terusir dan tidak lagi dapat berkomunikasi secara langsung dengan Allah SWT. Dengan penuh penyesalan Adam AS beristighfar memohon ampunan karena kesalahannya mengikuti nafsunya memakan buah dari pohon terlarang. Robbana dholamna anfusanaa, wa in lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakunanna minal khoosirin. Tidak hanya beristighfar, lanjut Romo, Adam AS juga bertaubat dengan berpuasa menahan nafsu untuk kembali kepada fitrah, yaitu untuk mencapai kembali derajat Adam Ma’rifat, yaitu Adam AS yang awal dicipta penuh kemuliaan;  Adam AS yang bisa berhubungan dengan Allah SWT. “Begitulah, setiap manusia keturunan Adam AS ditutupi oleh al-Ghayn sehingga tidak bisa melihat yang ghaib lagi dan tidak bisa berkomunikasi langsung dengan Allah. Untuk membuka Al-Ghayn, dilakukan dengan berpuasa dan beristighfar. “Itu sebabnya para Nabi selalu beristighfar dan berpuasa. Bahkan Rasulullah Saw dalam sehari tidak kurang beristighfar 70 kali, bukan saja untuk meminta ampunan sebagai keturunan Adam AS melainkan juga untuk menyingkap hijab Al-Ghayn,” papar Romo menegaskan.
Sekalipun berpuasa memiliki kaitan dengan pertaubatan Adam AS beserta keturunannya, lanjut Romo, sebagian orang masih sering menganggap berpuasa hanya sebagai ritual tahunan belaka, sehingga mereka terjebak pada formalitas belaka. Menurut Imam Al-Ghazali, jelas Romo, ada 3 kategori derajat orang-orang yang berpuasa, yakni:
Pertama, puasanya golongan orang awam, yaitu mereka yang hanya puasa perut saja, mereka menahan diri tidak makan dan tidak minum, tapi kelakuan sehari-harinya tidak selayaknya orang berpuasa. Matanya tetap melihat pada hal-hal maksiat, telinganya mendengarkan pada perkataan buruk dan maksiat, mulutnya tetap menebar ghibah dan namimah, pendek kata seluruh pancainderanya tidak menahan diri dari segala perbuatan keji dan munkar. Golongan ini pada akhirnya tidak memperoleh apa-apa dari puasanya kecuali haus dan lapar, sebagaimana diungkapkan hadits Nabi Saw, kam min shoimin laisa lahu min shiyamihi illa al-juu’ wal ‘athsyi. “Golongan ini adalah golongan orang-orang yang jiwa dan pikirannya masih dikuasai nafsu,” ujar Romo.
Kedua, golongan khawas (khusus). Golongan ini berpuasa, menahan haus dan lapar serta menahan diri dari godaan nafsu. Golongan ini menyadari betapa beratnya menahan nafsu namun tetap berusaha keras. Dikisahkan, suatu ketika, saat Allah SWT  menciptakan nafsu, Allah bertanya, “Siapa kamu dan siapa Aku?” lalu nafsu menjawab, “aku adalah aku dan engkau adalah engkau.” Diangkatlah nafsu dan dimasukkan ke dalam kobaran api hingga 1000 tahun lamanya.  Saat dikeluarkan dan ditanya, “Wahai nafsu, siapa Aku dan siapa kamu?” nafsu kembali menjawab dengan enteng, “aku adalah aku dan engkau adalah engkau”.
     Mendapati nafsu tetap bersikukuh dengan pandangannya,  Allah SWT kembali menghukum nafsu ke dalam neraka yang sangat dingin selama 1000 tahun. Saat dikeluarkan dan ditanya kembali “Wahai nafsu siapa Aku dan siapa kamu?” nafsu menjawab, “Aku adalah aku dan engkau adalah engkau.” Lalu Allah melemparkan nafsu ke alam siksa di mana tidak ada makanan dan minuman selama 1000 tahun. Sekembalinya dari sana, nafsu ditanya, “Wahai Nafsu, siapa Aku dan siapa kamu?” saat itulah Nafsu menjawab, ”Engkau Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu.” Lalu Allah SWT berfirman, “Wahai nafsu, sekarang masuklah engkau bersama tubuh anak Adam” riwayat ini  dikutip dari Kitab karangan Utsman Bin Hassan Bin Ahmad Asy-Syakir Al-Khaubawiyi.
Ketiga, puasanya golongan khawas al-khawas (khususnya manusia  khusus). Golongan ini dalam puasanya tidak melakukan apa-apa kecuali ibadah mengingat Allah saja. Sampai-sampai tidak memikirkan untuk berbuka-sahur menggunakan apa. “Inilah puasa golongan arifin, muqarabiin, shiddiqiin, dan kekasih-kekasih Allah. Golongan ini memaknai puasa sebagai proses taraqqi, naik kembali ke derajat Adam Ma’rifat,” ujar Romo.
Demikianlah puasa menjadi satu wahana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di samping itu, papar Romo, puasa merupakan satu ibadah istimewa, di mana ia langsung diganjar oleh Allah SWT tanpa melalui perantara malaikat, sebagaimana dalam hadits qudsi, asshoumu lii wa ana ajza bihi (puasa adalah milik-Ku, Aku yang akan mengganjarnya). Itu sebabnnya, lanjut Romo,  kedudukan puasa dalam rangkaian Iman-Islam-Ihsan berada pada posisi   Ihsan, di mana batasan definitif Ihsan adalah  “engkau menyembah Allah seakan-akan engkau  melihat-Nya atau jika engkau tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah yang melihatmu”.
Dalam berpuasa, jelas Romo, praktis kita selalu merasa diawasi oleh Allah SWT. Ada orang yang melihat atau tidak ada orang yang melihat, di tempat terbuka atau di tempat tersembunyi,  orang beriman yang berpuasa tidak akan berani makan atau minum jika belum datang waktu berbuka karena merasa selalu ada yang mengawasi. Keadaan kesadaran jiwa dan pikiran yang selalu merasa seakan-akan dilihat dan diawasi Allah – sehingga tidak berani melanggar – itulah yang disebut Ihsan. Karenanya, di bulan puasa ini, manusia diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk melatih diri berjuang, berperang melawan nafsu untuk kembali kepada fitrah. Kita tidak boleh pesimis untuk dapat mencapai fitrah, setidaknya derajat golongan khawas. “Selamat berjuang dan semoga kita termasuk orang-orang yang menang, yakni insan yang mencapai derajat taqwa, syukur kalau bisa kembali kepada fitrah sebagai Adam Ma’rifat,” ungkap Romo mengakhiri ngaji malam itu. 

Posted by Tina Siska Hardiansyah

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : PUASA RAMADHAN KEMBALI KE FITRAH ADAM MA’RIFAT

0 komentar:

Posting Komentar